Mahasiswa GMNI Desak Polres Sumenep Segera Tangkap Pengoplos Beras

Mahasiswa GMNI Desak Polres Sumenep Segera Tangkap Pengoplos Beras
Mahasiswa GMNI saat aksi (Foto/Sinergi Madura)
Mahasiswa GMNI Desak Polres Sumenep Segera Tangkap Pengoplos Beras

SUMENEP, Sinergi Madura - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumenep, Madura, Jawa Timur melakukan unjuk rasa di depan Mapolres setempat, Jumat (13/3/2020).

Mereka meminta agar Polisi mempercepat proses penyidikan dan menangkap oknum pengoplos beras UD Yudhatama Art yang berlokasi di jalan Merpati 3A Desa Pamolokan Kecamatan Kota Sumenep, pada Rabu (26/2/) lalu.

"Sudah jelas jadi tersangka, kenapa belum ditangkap," teriak kaum elit intelektual yang dikoordinatori Februandi R Akbar ini.

Disebutkan, oknum yang telah ditetapkan oleh Polisi sebagai tersangka pengoplos beras itu telah melanggar UU nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

"Tidak hanya itu, mereka juga telah melanggar Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, dan UU nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan, dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun. Kenapa hingga hari ini belum ada yang ditangkap," teriak Akbar.

Mahasiswa juga menyatakan tidak menutup kemungkinan akan banyak oknum yang terlibat dan berpotensi menjadi tersangka. Untuk itu, menurut mereka, kasus ini harus dikawal ketat sampai ke akar-akarnya.

"Kami menuntut agar pihak kepolisian segera mengusut tuntas oknum pengoplos beras, berikut jalinan kerjasama mereka dengan agen atau e-warung di bawah," pinta mereka lantang.

"Polres jangan terkesan lamban dalam menangani kasus ini, masyarakat sudah banyak yang menunggu, agar eksploitasi beras oplosan tersebut tidak semakin meluas," imbuhnya.

Wakil Kepala Kepolisian Resort (Wakapolres) Sumenep, Kompol Andi Febrianto Ali menanggapi tuntutan mahasiswa. Dia menyatakan bahwa kasus beras oplosan ini telah menjadi atensi pihak kepolisian karena beras menurutnya merupakan kebutuhan pokok bersama.

"Pada prinsipnya Bapak Kapolres berterima kasih ya atas kontrol dari teman-teman mahasiswa terhadap penyidikan kasus apapun, tidak hanya kasus beras ini," ucapnya.

Kompol Andi menjelaskan bahwa tersangka kasus ini tidak bisa serta-merta langsung ditangkap. Kasus ini katanya merupakan kasus khusus yang membutuhkan kajian dan pemeriksaan saksi ahli lebih lanjut.

"Kita perlu saksi ahli, perlu juga pengujian beras tersebut di lab, dan juga perlu koordinasi dengan lembaga lain. Makanya kita ada dua persangkaan sementara, yaitu UU Pangan dan Perlindungan Konsumen," sebutnya.

"Untuk tahapan selanjutnya yakni penetapan tersangka dan lain sebagainya, kita masih menunggu hasil lab, hasil keterangan saksi ahli, dan hasil koordinasi Pak Kasatreskrim dengan YLKI dan Dinas Pangan," paparnya menambahkan.

Kompol Andi mengatakan bahwa sejumlah barang bukti yang sudah disita pada saat dilakukan operasi tangkap tangan (OTT) pada tanggal 26 Februari lalu masih belum cukup untuk dijadikan dasar penetapan terhadap tersangka.

"Tidak semudah itu, harus ada hasil lab, harus ada keterangan hasil keterangan saksi ahli, walaupun itu masuk salah satu unsur pendukung juga," pungkasnya. (Dul/red)