Tilap Uang 800 Juta, Teller Bank Ini Dijemput Paksa Kejaksaan Sumenep

Tilap Uang 800 Juta, Teller Bank Ini Dijemput Paksa Kejaksaan Sumenep
BERSELFI: Tersangka MH saat akan dibawa ke ruang tahanan Kelas IIB Rutan Sumenep (Foto/Sinergi Madura)
Tilap Uang 800 Juta, Teller Bank Ini Dijemput Paksa Kejaksaan Sumenep

SUMENEP, Sinergi Madura - Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur gelar press release penetapan tersangka tindak pidana korupsi (Tipikor) di salah satu bank BUMN Kota Sumekar, Selasa (10/3/2020) siang.

Hari itu juga, sekitar pukul 13.00 WIB, teller bank berinisial MH (36) warga Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep tersebut dibawa dan ditahan di Rutan Kelas IIB Sumenep karena diduga telah melakukan perbuatan melawan hukum dan merugikan negara sebesar Rp 800 juta.

"Jadi, pada hari ini sekitar pukul 13.00, Jaksa Penyidik pada bidang tindak pidana khusus (Pidsus) telah menetapkan dan melakukan penahanan terhadap tersangka dengan inisial MH," ungkap Kajari Sumenep, Djamaludin, saat rilis di hadapan puluhan awak media.

Sebelum dilakukan penanahan, sambung dia, MH telah ditetapkan terlebih dahulu sebagai tersangka dengan surat perintah penyelidikan (sprinlidik) nomor 1/M.5.34/Fd.1/03/2020 dan surat perintah penyidikan (sprindik) nomor 01.A/M.5.34/Fd.1/03/2020.

Dari Kanan: Kasi Intel Novan Bernadi, Kajari Djamaluddin, Kasi Pidsus Herpin Hadat, dan Kasubsi Penuntutan Kejari Sumenep Surya Rizal Hertady (Foto/Sinergi Madura)

Dalam kasus ini, penyidik telah mengamankan 2 alat bukti berdasarkan Pasal 184 ayat (1) KUHAP. "Sehingga penyidik sudah cukup layak untuk menetapkan tersangka dan melakukan penyidikan khusus," katanya.

MH melakukan modus tipikor dengan cara tidak menyetorkan uang nasabah untuk kepentingan pribadinya. Namun demikian, kata Djamal, dalam kasus ini nasabah tidak rugi karena uangnya telah diganti dengan uang kas kantor yang bersangkutan ke nomor rekening nasabah.

"Jadi, posisi kasus tersangka ini merugikan negara, bukan merugikan nasabah. Modus itu dilakukan sejak Maret 2018 sampai Desember 2019, hampir setahun," tegasnya.

Lebih lanjut Djamal menyatakan bahwa, tim penyidik tindak pidana khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep telah memeriksa sebanyak 23 orang saksi terkait kasus ini. "Saksi itu terdiri dari 12 orang (unsur) nasabah, dan sisanya dari pejabat bank," sebut Kasi Pidsus Herpin Hadat.

Tersangka terancam jerat pidana maksimal 20 penjara, yakni berdasarkan Pasal 2 subsidiar Pasal 3, jo Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (Msd)